
Sejumlah mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi di berbagai universitas di Malaysia ikut ambil bagian dalam kegiatan volunteer mengajar untuk anak-anak dari komunitas marjinal, seperti anak-anak migran dan pengungsi. Kegiatan ini dilakukan secara sukarela setiap akhir pekan di pusat pembelajaran komunitas yang tersebar di wilayah seperti Klang, Ampang, dan Cheras.
Anak-anak yang diajar sebagian besar berusia TK hingga SD, dan belum mendapatkan akses ke sekolah formal karena berbagai kendala administrasi dan status kewarganegaraan. Para relawan ini membantu mengajarkan pelajaran dasar seperti membaca, menulis, berhitung, serta pelajaran ringan lain seperti Bahasa Inggris dan seni.
“Kami biasanya datang seminggu sekali, dan mengajar selama dua sampai tiga jam,” kata Nurul, mahasiswa asal Bandung yang saat ini sedang menempuh S1 Pendidikan di Universiti Malaya. “Anak-anaknya sangat semangat, walaupun ruang belajarnya terbatas dan fasilitasnya sederhana. Kami mencoba membuat suasana belajar senyaman mungkin.”
Kegiatan ini difasilitasi oleh komunitas lokal dan organisasi sosial yang bekerja sama dengan beberapa pusat pengungsi dan lembaga pendidikan alternatif. Para mahasiswa biasanya bergabung melalui ajakan teman, organisasi kampus, atau informasi dari media sosial. Sebelum mulai mengajar, mereka diberikan pelatihan singkat mengenai teknik mengajar anak dan pemahaman budaya komunitas setempat.
Menurut data dari salah satu pusat belajar, lebih dari 50 anak belajar setiap minggunya dengan bantuan para relawan ini. Selain mengajar, mahasiswa juga membantu menyiapkan materi belajar, mengatur kegiatan akhir pekan, dan mendampingi anak-anak dalam aktivitas seni dan permainan edukatif.
“Kami merasa kegiatan ini bukan hanya membantu mereka, tapi juga memperkaya pengalaman kami sebagai mahasiswa,” ujar Rizky, mahasiswa Teknik dari Universiti Teknologi MARA. “Ini membuat kami lebih peka terhadap isu sosial dan menghargai akses pendidikan yang kami miliki.”
Kegiatan volunteer ini tidak hanya membuka peluang kontribusi sosial bagi mahasiswa, tetapi juga mempererat hubungan antarwarga Indonesia dan komunitas lokal di Malaysia. Banyak dari para relawan berharap kegiatan semacam ini bisa terus berjalan dan melibatkan lebih banyak mahasiswa di masa mendatang.